Pages

Sepenggal Episode Kehidupan di bulan April


Hari Rabu tanggal 20 April, cuaca di Bandung kala itu begitu cerah ditemani angin sepoi-sepoi yang begitu menyegarkan, udara yang begitu menyejukan seakan-akan mendukung niatknya untuk  segera bergegas pergi ke sebuah lembaga yang telah melahirkannya menjadi seorang manusia.Diapun melangkahkan kakinya dan berkemas mempersiapkan barang-barang yang diperlukan selama di perjalanan. 

"Mau pegi kemana?" tanya ibunya yang baru keluar dari kamar mandi
"ke tasik, mau silaturahmi ke pesantren. Silaturahmi kan kata Nabi bisa mendatangkan rizki yang banyak". Dia menjawab.
"oooh ya udah, hati-hati dijalan jangan ngebut pake motornya, dan jangan lupa jalannya kepinggir jangan ketengah" hehe sambil tersenyum dengan gemulai ibunya bercanda.

brem,,,,brem,,, motornya pun dinyalakan dan siap berangkat ke tasikmalaya. Selama diperjalanan alhamdulilah tidak ada hambatan semuanya aman terkendali. 4 jam waktu yang ditempuh akhirnya sampai tujuan. sampai disana hatinya senang tidak kepalang, rasa cape selama perjalanan lenyap seketika, dahaga yang begitu hebat sampai tenggorokannya kering pun hilang, seakan-akan dia mendapatkan air minum yang begitu menyegarkan. itulah salah satu bukti kerinduan seorang murid kepada gurunya yang telah mendidiknya selama 8 tahun lamanya.

"waduhhh....ada bos datang ke tasik euy" gurunya berteriak ketika melihatnya di jalan menuju pesantren.
Dia hanya tersenyum dan tek berhenti disana karena menurut etika berbicara dengan seorang guru kurang begitu baik.
Sampai di kantor pengurus santri putra dia bertemu para santri yang baru saja keluar dari madrasah. semuanya menyambut dengan hangat, saling bersalam-salaman.

bersambung ah tunduh....... 


Response to "Sepenggal Episode Kehidupan di bulan April"

Leave a Reply

-setingi apapun keinginan untuk meraih sesuatu tidak akan pernah bisa melampaui tangga ketentuan yang esa-
-Very busy people always find time for everyting conversely,people with immense leisure find time nothing-
-Takdir, senang bermain dengan caranya sendiri, Kudamu tidak bisa diandalkan Hentikan akal-akalan, karena sesuatu bergantung bagaimana takdir dimainkan Satu kebajikan dari langit lebih baik daripada seratus upaya Seratus keburukan bersembunyi dalam setiap usaha kita "Jalaludin ar-Rumi"-
-pertama, manusia mendambakan roti, karena makanan adalah benang pokok kehidupan. Ketika pada akhirnya dia kekenyangan, dia mencari popularitas, pujian para penyair, dan publisitas. Sehingga, keuliaannya akan dipuja-puji. Dan dari podium, kebijakan-kebijakannya disambut meriah. "Jalaludin ar-Rumi"-