rasa kepala dua
Dikeheningan malam sunyi penuh, matanya menatap mesin yang katanya lebih pintar dari manusia.
ya,,,,memang lebih pintar mungkin. tapi tak punya rasa, tak punya cinta.
manusia punya cinta, punya rasa. apalagi jikalau pengalamannya sudah mencapai kepala dua.
ya,,,,memang lebih pintar mungkin. tapi tak punya rasa, tak punya cinta.
manusia punya cinta, punya rasa. apalagi jikalau pengalamannya sudah mencapai kepala dua.
tapi hal itu tak membuatnya risau, itu hanya sebuah inter mezo. dan seketika dia pun
mulai lagi menggoyangkan jari-jarinya, pencet sana pencet sini. dan jadilah sebuah makalah
ya,,,makalah dengan tema filsafat yunani kuno.
matanya kemudian perih lalu menatap keluar, sejauh pandangannya ia menemukan secangkir kopi,
dan sebatang rokok yang telanjang tanpa bungkus, sisa di siang hari sebelum masuk kuliah.
tanpa pikir panjang dia meminum kopi perlahan. ruangan pun mendadak penuh kabut dipenuhi asap rokok
matanya masih terjaga, hanya dia. yang lainnya sudah terlelap.
ga tidur? tanya orang serumah yang terbangun karena kebelet pengen pipis
ia hanya menjawab dengan senyum.
tidurlah, tak ada gunanya juga terjaga.
ya, jawabnya, sambil disusul dengan senyuman.
dia pun bingung kenapa matanya masih terjaga
seakan letih tak menggangunya. pikirannya pun kini sesak, semuanya mendadak terpikirkan, tapi karena saking banyaknya hal yang masuk dalam daftar pikirannya, ia sendiri bingung tidak tahu harus memikirkan apa?
bagaimana? mulai darimana?akhirnya karena lelah denga keadaan.ia pun memutuskan untuk tidak memikirkan apa-apa.
hanya mengikuti saja kemana arah hatinya melangkah

Response to "rasa kepala dua"