Pages

sejarah singkat bahasa indonesia


Para ahli bahasa telah menggolongkan bahasa menjadi beberapa rumpun. Penggolongan bahasa menjadi beberapa rumpun tersebut berdasarkan anggapan bahwa bahasa-bahasa di dunia ini,  dilihat dari letak daerah dan cirinya,  diperirakan mempunyai asal-usul yang sama. Salah satu unsur rumpun tersebut ialah Austria. Rumpun bahasa Austria ini terdiri atas bahasa-bahasa Austro dan Austronesia.
Adapun bahasa Indonesia adalah bahasa yang berasal dari bahasa Melayu. Perkembangan bahasa ini sangat cepat. Selain mendapat pengaruh dari bahasa daerah,  bahasa Indonesia juga terpengaruhi oleh bahasa asing. Bahasa-bahasa saerah adalah bahasa-bahasa yang tersebar di seluruh nusantara. Berdasarkan penelitian pusat pembinaan dan pengembangan bahasa,  bahasa yang berada di kawasan Nusantara berjumlah 418 buah.
Jauh sebelum bangsa Belanda menjajah Nusantara,  bahasa Melayu telah merembes ke wilayah Indonesia bersamaan dengan datangnya berbagai bangsa yang membawa bermacam-macam kebudayaan,  agama,  dan bahasa. Bangsa Arab contohnya,  memberi andil terbesar dalam perluasan kosakata bahasa Melayu. Menurut penelitian Prof. Sutan Takdir Alisyahbana dalam bahasa Melayu terdapat kurang lebih 80% kosakata yang berasal dari bahasa Arab.
Pada abad XI bahasa Melayu mencapi puncak kejayaannya. Penduduk Nusantara terutama di kota-kota besar sudah menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan,  bahasa perhubungan,  dan bahasa perdagangan (lingua franca).
Pada tahun 1850,  seorang sarjana Inggris yang bernama J.R. Logan (James Richardson Logan) memperkenalkan predikat “Indonesia”. Secara perlahan istilah “Indonesia” mulai melekat dihati bangsa kita,  namun pemerintah Belanda kurang menyenangi istilah itu, karena dibalik nama “Indonesia” terbayang persatuan bangsa yang kokoh. Tetapi,  putra-putri Indonesia semakin dilarang menggunakan tersebut,  semakin menyengaja walaupun tahanan taruhannya. Dan pada tahun 1901,  seorang Belanda yang bernama Van Ophuysen menyusun ejaan bahasa Melayu yang bernama Ejaan van ophuysen. Setelah itu pada tahun 1908 putra-putri Indonesia banyak yang sudah dapat membaca dan menulis. Mereka haus bacaan akhirnya,  Belanda segera mendirikan sebuah badan penerbitan buku yang dinamakan: “commissie voor de inlandsche school en volkslectuur” yang berarti Komisi untuk sekolah-sekolah bumiputra dan Bacaan rakyat. Badan ini menangani penerbitan karangan/cerita hiburan yang dibuat sastrawan Indonesia. Karangan yang akan diterbitkan taman Bacaan Rayat harus melalui badan sensor dan isinya tidak boleh membakar semangat rakyat melainkan harus hiburan semata. Hal ini tidak disenangi rakyat, tetapi sebagian lagi memanfaatkan badan ini.
Tahun 1917 Taman Bacaan Rakyat berganti nama dengan Balai Pustaka, tapi patriot bangsa tetap tidak menyenangi badan tersebut karena bahasa Indonesia dilarang untuk berkomunikasi sehingga,  pada tanggal 28 Oktober 1928,  pemuda tidak dapat lagi menahan gejolak ingin memiliki bahasa persatuan. Dengan berani dan mempertaruhkan jiwa raga, putra-putri Indonesia memproklamasikan bahsa persatuan yaitu bahasa Indonesia yang terkenal dengan nama “Sumpah Pemuda”.
Selanjutnya putra-putri Indonesia sepakat menerbitkan sebuah majalah yang pada tahun 1930 bernama Majalah Pujangga Baru. Para pujangga Indonesia dapat berbicara bebas pada majalah ini. Sutan Takdir alisyahbana mulai menulis tata bahasa di setiap penerbitan majalah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Buku tersebut menjadi pelopor buku tata bahasa yang berikutnya.
Sejak bahasa Indonesia dijadikan bahasa nasional,  bahasa pengantar, dan bahasa resmi,  bahasa Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan ejaan. Ejaan tersebut adalah Ejaan Van Ophuysen,  Ejaan Republik atau ejaan Suwandi, dan Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Ejaan Van Ophuysen berlandaskan aturan ejaan Melayu dengan huruf latin yang dirancang oleh Charles Adrian Van Ophuysen dengan bantuan Engku Nawawi gelar St. Makmur dan Muhammad taib soetan Ibrahim. Watu itu usaha kea rah penyempurnaan ejaan mulai dirintis. Hal itu terbukti dalam kongres Bahasa Indonesia I tahun 1938 di solo. Kongres menyarankan agar ejaan lebih diinternasionalkan. Selanjutnya,  pada tahun 1947,  Menteri pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Ejaan Republik sebagai ejaan resmi. Penetapan berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 19 Maret 1947. Ejaan ini merupakan penyederhanaan Misalnya: Boekoe menjadi buku.
Kongres Bahasa Indonesia ke-2 diadakan pada tahun 1945 di Medan.Pada kongres tersebut, selain dibicarakan asal-usul bahasa Indonesia juga dibicarakan penyusunan peraturan ejaan yang praktis bagi bahasa Indonesia.Pada tahun 1956 dibentuklah panitia Priyono-Katopo. Panitia itu berhasil merumuskan patokan-patokan baru. Rumusan tersebut melahirkan Ejaan Melindo (Melayu Indonesia), ejaan yang berdasarkan konsep perjanjian persahabatan antara persekutuan Tanah Melayu dan Indonesia dengan usaha mempersamakan dua bahasa tersebut,  akan tetapi perkembangan ejaan ini terhenti karena situasi politik. Selanjutnya,  pada tahun 1967 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mensahkan panitia ejaan Bahasa Indonesia dengan tugas menyusun konsep penyempurnaan ejaan

Response to "sejarah singkat bahasa indonesia"

Leave a Reply

-setingi apapun keinginan untuk meraih sesuatu tidak akan pernah bisa melampaui tangga ketentuan yang esa-
-Very busy people always find time for everyting conversely,people with immense leisure find time nothing-
-Takdir, senang bermain dengan caranya sendiri, Kudamu tidak bisa diandalkan Hentikan akal-akalan, karena sesuatu bergantung bagaimana takdir dimainkan Satu kebajikan dari langit lebih baik daripada seratus upaya Seratus keburukan bersembunyi dalam setiap usaha kita "Jalaludin ar-Rumi"-
-pertama, manusia mendambakan roti, karena makanan adalah benang pokok kehidupan. Ketika pada akhirnya dia kekenyangan, dia mencari popularitas, pujian para penyair, dan publisitas. Sehingga, keuliaannya akan dipuja-puji. Dan dari podium, kebijakan-kebijakannya disambut meriah. "Jalaludin ar-Rumi"-